akhir tahun tetap kere


akhir tahun adalah moment berpesta bagi sekumpulan orang orang yang memiliki bertumpuk kesempatan untuk merayakan, bertemu kekasih diluar kota memadu cinta bersama hujan atau bertemu keluarga yang sudah berpisah lama , byuh ndahneo bungae ati andai aku berkesempatan mengalami perasaan itu atau minimal punya banyak tabungan untuk berlibur sendiri kekota wisata, tapi masalah yang nemplek dari tahun ke tahun tak berubah tetap kere dan tak beruntung, ruang hati yang sepi dan kecil nyali.

hidup dikota kecil macam madiun memang damai minim kriminal, jauh dari potensi bencana seperti yang menimpa kota  lain akhir akhir ini , bencana datang memporak porandakan harta benda yang  diusahakan dengan bersusah payah, keluarga meninggal tak jelas dimana jasadnya, satu satunya pacar tercintapun harus lenyap terseret tsunami , betapa pilunya rasa hati jika dunia memaksaku untuk menghadapi tantangan batin sebesar itu.
tapi ancaman paceklik yang datang lebih kejam dari hutan rimba kerja malam pagi habis, kerja pagi siang kere lagi tenaga terkuras tanpa hasil, jangankan menabung bayar kontrakan 150rb tiap bulannya saja masih sering terlambat

ditambah lagi perempuan perempuan madiun yang sok jual mahal , dilirik aja buang muka, apalagi disapa terlebih cari kenalan, byuh susahe setengah mati, jangan harap bisa memiliki perempuan cantik dikota ini kalau hidupmu masih menjadi gedibal. cukup diam dipojok warung hisap cerutu bersama secangkir kopi tawar saja, sembari menunggu keberuntungan datang tawarkan kesempatan semoga menjadi berkat dikemudian hari sampai kemakmuran layak untuk disandang.