pacitan
benci tapi rindu ,
sebait kata untuk kota kelahiran yang sama sekali tak kucinta , yang enggan kuakui dimanapun aku berada.
perasaan benci dan dendam yang masih berkobar dalam dada tak terpadamkan meski berusaha melupakan sejak beberapa tahun lalu.
masa kecil yang menyakitkan
dikucilkan dari pergaulan teman2 sekampung tanpa alasan yang jelas
postur tubuh yang relatif kecil & pendek dari yang lain, menjadikanku korban bully oleh teman2 brengsek, semenjak masuk kelas satu sma sampai terakhir lulus, seorang teman berkulit putih dan tinggi tapi jongos memberiku julukan 'soimen' sebuah nama yaang pada waktu itu hanya mbah2 yang memiliki, kemudian satu sekolah yang mengenalku memanggil dengan nama itu menjadikanku bahan lelucon saat pelajaran berlangsung, setiap kali namaku disebut satu kelas bahkan gurupun seketika mengarahkan padangan kepadaku lalu tertawa meledek, byuh jan isine setengah mati aku. rasa malu yang terus menerus menjadikan mentalku yang masih berusia anak2 drop secara tidak langsung berpengaruh terhadap kegiatan belajar dan pergaulanku disekolah, prestasi jadi nol besar, semangat hilang.
aku tak punya teman apalagi pacar karena setiap wanita yang aku dekati merasa malu sebab aku jadi bahan tawa mereka
jangankan ingin mendekati mau mengenal saja susah jika kebetulan ada wanita yang kuajak ngobrol semua mata langsung tertuju pada kami, lantas tertawa girang, entah bagaimana bisa secara spontan setiap aktifitasku menjadi lucu dimata anak2
hanya sedikit teman baik yang kupunya mereka adalah teman2 yang selalu memanggil nama asliku dan tak jarang mengajaku berdiskusi tentang pelajaran, namun mereka juga meninggalkanku pada akhirnya
hari2 kujalani tanpa cita2 , satu harapan segera lulus sekolah & pergi dari kota ini sebab tak ada yang bisa diharapkan dari kota kecil dipesisir pantai yang dikelilingi daratan bertebing dan berbatu ini tak ada lapangan kerja kecuali nggarap sawah, tak ada tempat nongkrong, hanya suara ricuh belalang hutan yang menghimpit hati semakin kecil dan sepi.